Total Tayangan Halaman

Minggu, 21 Desember 2014

Perbedaan DSM IV dan DSM V

A. KONSEP DSM DSM kepanjangan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang berfungsi dalam klasifikasi standar gangguan mental yang digunakan oleh profesional kesehatan mental di Amerika Serikat. Hal ini dapat digunakan oleh berbagai profesional kesehatan kesehatan dan mental, termasuk psikiater dan dokter lainnya, psikolog, pekerja sosial, perawat, terapis okupasi dan rehabilitasi, dan konselor. Ini juga merupakan alat yang diperlukan untuk mengumpulkan dan mengkomunikasikan data statistik yang akurat kesehatan masyarakat. B. DSM IV DSM-IV (1994) Pada tahun 1994, DSM-IV diterbitkan, daftar 297 gangguan dalam 886 halaman.Satuan Tugas ini dipimpin oleh Frances Allen . Sebuah komite kemudi dari 27 orang diperkenalkan, termasuk empat psikolog. Komite pengarah menciptakan kelompok kerja 13 dari 5-16 anggota. Setiap kelompok kerja memiliki sekitar 20 penasihat. Kelompok kerja melakukan proses langkah ketiga. Pertama, setiap kelompok melakukan tinjauan literatur yang luas dari diagnosis mereka. Kemudian mereka meminta data dari para peneliti, melakukan analisis untuk menentukan kriteria yang diperlukan berubah, dengan instruksi untuk konservatif. Finally, Akhirnya, mereka melakukan multicenter uji coba lapangan yang berkaitan dengan praktek diagnosis klinis. Sebuah perubahan besar dari versi sebelumnya adalah dimasukkannya kriteria signifikansi klinis untuk hampir setengah dari semua kategori, yang dibutuhkan gejala menyebabkan "signifikan distress klinis atau penurunan bidang penting sosial, pekerjaan, atau fungsi ". DSM-IV-TR (2000) DSM-IV-TR ini diterbitkan pada tahun 2000. Kategori diagnostik dan sebagian besar kriteria spesifik untuk diagnosis tidak berubah. bagian Teks memberikan informasi tambahan pada masing-masing diagnosis diperbarui, begitu juga beberapa kode diagnostik untuk menjaga konsistensi dengan ICD. Kategorisasi DSM-IV adalah sistem klasifikasi kategoris. Kategori-kategori yang prototip, dan seorang pasien dengan pendekatan dekat dengan prototipe dikatakan mengalami gangguan itu. DSM-IV states, DSM-IV menyatakan, "tidak ada asumsi setiap kategori gangguan mental adalah entitas diskrit sepenuhnya dengan batas-batas absolut ..." tapi, rendah kadar dan noncriterion (tidak terdaftar untuk diberikan) gejala gangguan terisolasi tidak diberi penting. Kualifikasi kadang-kadang digunakan, ringan, sedang atau berat contoh bentuk gangguan. Selama hampir setengah dari gangguan, gejala harus cukup untuk menyebabkan "signifikan distress klinis atau gangguan dalam pekerjaan, atau lainnya yang penting daerah, sosial berfungsi", meskipun DSM-IV-TR dihapus kriteria marabahaya dari gangguan tic dan beberapa Paraphilias. Setiap kategori gangguan memiliki kode numerik yang diambil dari sistem pengkodean ICD, digunakan untuk pelayanan kesehatan (termasuk asuransi) tujuan administratif. Sistem Multi-aksial DSM-IV masing-masing menyelenggarakan diagnosis psikiatri ke dalam lima dimensi (sumbu) yang berkaitan dengan aspek yang berbeda dari gangguan atau cacat: 1. Aksis I • Gangguan Klinis : pola perilaku abnormal yang menyebabkan hendaya fungsi dan perasaan tertekan pada individu. Misal: skizofrennia, gangguan kecemasan, gangguan mood, dsb • Kondisi lainnya yang mungkin merupakan fokus perhatian klinis: permasalahan lain yang mjd fokus penanganan atau diagnostik tapi bukan merupakan gangg mental, spt: problem akademik, pekerjaan/sosial dan faktor psi’s yang mempengaruhi kondisi medis (misal kesembuhan pasca operasi karena depresi) 2. Aksis II • Gangguan Kepribadian: melibatkan kekakuan yang berlebihan, terus menerus dan maladaptif dalam hal berhubungan dengan orang lain dan penyesuaian thd permintaan eksternal. Misal: skizoid, paranoid, skizotipal, antisosial, dsb. • Retardasi Mental: melibatkan suatu perlambatan atau hendaya di dalam perkembangan kemampuan intelektual dan adaptif 3. Aksis III • Kondisi-kondisi Medis Umum: penyakit-penyakit akut dan kronis dan kondisi-kondisi medis yang penting untuk pemahaman atau penanganan gangguan psi’s atau yang berperan langsung sebagai penyebab gangg. psi’s. 4. Aksis IV • Problem Psikososial dan Lingkungan: permasalahan dalam lingkungan sosial atau fisik yang mempengaruhi diagnosis, penanganan dan terjadinya gangg.psi’s • Kategori Problem:  Permasalahan dengan kelompok pendukung utama: kematian atau kehilangan anggota keluarga, problem kesehatan anggota keluarga, gangg perkawinan dlm bentuk perpisahan, perceraian atau kerenggangan, KDRT, sibling rivalry, dsb  Problem yang berkaitan dengan lingkungan sosial: kematian atau kehilangan teman, hidup sendiri, masalah akulturasi di lingk baru, diskrimanasi, transisi dalam siklus perkembangan misal: pensiun  Problem pendidikan: buta huruf, kesulitan akademik, problem dengan guru atau teman sekolah serta dengan lingkungan sekolah  Problem pekerjaan: beban kerja yang berlebihan, problem dengan bos dan rekan kerja, perubahan pekerjaan, tidak puas dengan pekerjaan, PHK, pengangguran  Problem perumahan: tunawisma, rumah tidak layak huni, lingkungan tidak aman, masalah dengan tetangga,penggusuran  Problem ekonomi: kesulitan keuangan, kemiskinan ekstrem, dukungan kesejahteraan yang tidak memadai  Permasalahan dengan akses terhadap pelayanan kesehatan: jasa pelayanan kesehatan yang tidak memadai, tidak dilayani semestinya di RS/puskesmas, kesulitan transportasi ke RS/puskesmas, tidak ada asuransi kesehatan  Problem yang berkaitan dengan interaksi sistem legal/kejahatan: penangkapan atau hukuman penjara, menjadi tersangka dalam pengadilan, menjadi korban kejahatan, dimasukkan panti rehabilitasi.  Problem psikososial dan lingkungan lainnya: bencana alam atau bencana buatan manusia (bom, kebakaran, kompor meledak, dsb), peperangan, pertikaian dua kelompok, masalah dengan petugas pelayanan kesejahteraan, misalnya konselor, psikolog, peksos, dokter, tidak tersedia lembaga pelayanan sosial di lingkungannya. 5. Aksis V • Global Assessment of Functioning (GAF) • Mengacu pada asesmen menyeluruh klinisi tentang fungsi psikolog, sosial dan pekerjaan klien. Menggunakan skala 1-100. Semakin tinggi nilainya, semakin baik fungsi klien. Kode Tingkat Keparahan Simtom Contoh 91-100 Berfungsi superior dalam berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari Tidak ada gejala, menangani problem dengan baik 81-90 Gejala minimal atau tdk adanya simtom, tdk lbh drpd problem harian yang biasa Sedikit cemas saat ujian, beda pendapat dalam diskusi 71-80 Reaksi yg dpt diramalkan & bersifat smntr thd peristiwa yg mrpk stres atau hendaya ringan dlm berfungsi Kesulitan bkomunikasi stlh argumentasi dng keluarga, u/ smnt terpuruk dlm tgs akademik 61-70 Bbrp gejala ringan atau sedikit kesulitan(hendaya ringan)dlm fungsi sos, pekerjaan atau sklh, ttp scr umum masih baik Rasa murung,insomnia rungan, kadang bolos sekolah 51-60 Gejala sedang,atau kesulitan sedang dlm fungsi sos,pekerjaan atau sekolah Kadang2 ada serangan panik, memp sedikit teman,konflik 41-50 Gejala serius atau hendaya serius dlm fungsi sos,pekerjaan atau sekolah Pikiran bunuh diri,sering mengutil,tdk punya teman, ganti2 pekerjaan 31-40 Bbrp hendaya dlm uji realitas atau komunikasi atau hendaya berat di bbrp bidang Bicara tdk logis,depresi shg tdk mampu kerja,melalaikan keluarga dan mhindari teman 21-30 Pengaruh kuat pd perilaku delusi atau halusinasi,atau hendaya berat dlm komunikasi atau daya nilai,atau ketidak mampuan u/bfungsi hampir di semua bidang Perilaku yg sgt tdk layak,bicaranya kadang inkoheren,di tempat tidur sepanjang hari,tdk ada pekerjaan,rumah atau teman 11-20 Bahaya mencederai diri sendiri atau orang lain,atau kadang-kadang gagal mengurus diri,atau hendaya berat dalam komunikasi Tindakan ingin bunuh diri, seringkali melakukan tindak kekerasan 1-10 Bahaya yg terus menerus u/ mencederai diri sendiri atau orang lain,atau ketidakmampuan yg terus menerus u/ mengurus diri secara minimal,atau tindakan bunuh diri yang serius Sangat inkoheren atau membisu, usaha bunuh diri yang serius, kekerasan yang berulang • Contoh Diagnosis dengan Sistem Multiaksial Aksis I Gangg.Kecemasan Menyeluruh Aksis II Gangg.Kepribadian Dependen Aksis III Hipertensi Aksis IV Problem dengan kelompok pendukung utam (perceraian), problem pekerjaan (pengangguran) Aksis V GAF = 62 C. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder V (DSM-V) - Neurodevelopmental Disorder Gangguan perkembangan saraf adalah sekelompok kondisi yang terjadi dalam masa perkembangan. Gangguan ini biasanya terdiagnosis di awal pengembangan, sebelum anak memasuki sekolah dasar, dan ditandai dengan defisit perkembangan yang menimbulkan gangguan fungsi personal, sosial, akademik, atau pekerjaan. 1. Intellectual Disability (Intellectual Developmental Disorder) 2. Global Developmental Delay 3. Unspecified Intellectual Disability (Intellectual Developmental Disorder) 4. Language Disorder 5. Speech Sound Disorder 6. Childhood-Onset Fluency Disorder (Stuttering) 7. Social (Pragmatic) Communication Disorder 8. Unspecified Communication Disorder 9. Autism Spectrum Disorder 10. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder 11. Other Specified Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder 12. Unspecified Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder 13. Specific Learning Disorder 14. Developmental Coordination Disorder 15. Stereotypic Movement Disorder 16. Tic Disorders 17. Other Specified Tic Disorder 18. Unspecified Tic Disorder 19. Other Specified Neurodevelopmental Disorder 20. Unspecified Neurodevelopmental Disorder - Schizophrenia Spectrum and Other Psychotic Disorders Skizofrenia spektrum dan gangguan psikotik lainnya didefinisikan sebagai gangguan yang mengalami satu atau lebih dari simtom berikut: delusi, halusinasi, disorganized thinking (speech), perilaku motor yang sangat tidak teratur atau abnormal (termasuk katatonia), dan simtom negative. 1. Schizotypal (Personality) Disorder 2. Delusional Disorder 3. Brief Psychotic Disorder 4. Schizophreniform Disorder 5. Schizophrenia 6. Schizoaffective Disorder 7. Substance/Medication-Induced Psychotic Disorder 8. Psychotic Disorder Due to Another Medical Condition 9. Catatonia Associated With Another Mental Disorder (Catatonia Specifier) 10. Catatonic Disorder Due to Another Medical Condition 11. Unspecified Catatonia 12. Other Specified Schizophrenia Spectrum and Other Psychotic Disorder 13. Unspecified Schizophrenia Spectrum and Other Psychotic Disorder - Bipolar and Related Disorders Bipolar dan gangguan terkait dipisahkan dari gangguan depresi pada DSM-5 dan ditempatkan di antara spektrum skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya dan gangguan depresi sebagai pertimbangan gangguan bipolar sebagai jembatan antara dua kelas diagnostik dalam hal simptomatologi, riwayat keluarga, dan genetika. 1. Bipolar I Disorder 2. Bipolar II Disorder 3. Cyclothymic Disorder 4. Substance/Medication-Induced Bipolar and Related Disorder 5. Bipolar and Related Disorder Due to Another Medical Condition 6. Other Specified Bipolar and Related Disorder 7. Unspecified Bipolar and Related Disorder - Depressive Disorder Tidak seperti di DSM-IV, gangguan depresif telah dipisahkan dari gangguan bipolar dan gangguan terkait. Ciri umum dari semua gangguan ini adalah adanya perasaan sedih, kosong, marah, disertai dengan somatik dan perubahan kognitif yang secara signifikan mempengaruhi kapasitas individu untuk berfungsi. Apa yang berbeda di antara mereka adalah masalah durasi, waktu, atau penyebab. 1. Disruptive Mood Dysregulation Disorder 2. Major Depressive Disorder 3. Persistent Depressive Disorder (Dysthymia) 4. Premenstrual Dysphoric Disorder 5. Substance/Medication-Induced Depressive Disorder 6. Depressive Disorder Due to Another Medical Condition 7. Other Specified Depressive Disorder 8. Unspecified Depressive Disorder - Anxiety Disorders Ketakutan adalah respon emosional terhadap ancaman nyata atau yang dirasakan, sedangkan kecemasan adalah antisipasi ancaman di masa depan. Jelas, dua definisi ini tumpang tindih, tetapi keduanya berbeda, di mana rasa takut lebih sering dikaitkan dengan lonjakan gairah otonom untuk fight or flight, pikiran bahaya, dan perilaku melarikan diri, dan kecemasan lebih sering dikaitkan dengan ketegangan otot dan kewaspadaan dalam persiapan untuk bahaya masa depan dan perilaku hati-hati atau avoidant. 1. Separation Anxiety Disorder 2. Selective Mutism 3. Specific Phobia 4. Social Anxiety Disorder (Social Phobia) 5. Panic Disorder 6. Agoraphobia 7. Generalized Anxiety Disorder 8. Substance/Medication-Induced Anxiety Disorder 9. Anxiety Disorder Due to Another Medical Condition 10. Other Specified Anxiety Disorder 11. Unspecified Anxiety Disorder - Obsessive-Compulsive and Related Disorders 1. Obsessive-Compulsive Disorder 2. Body Dysmorphic Disorder 3. Hoarding Disorder 4. Trichotillomania (Hair-Pulling Disorder) 5. Excoriation (Skin-Picking) Disorder 6. Substance/Medication-Induced Obsessive-Compulsive and Related Disorder 7. Obsessive-Compulsive and Related Disorder Due to Another Medical Condition 8. Other Specified Obsessive-Compulsive and Related Disorder 9. Unspecified Obsessive-Compulsive and Related Disorder - Trauma- and Stressor-Related Disorders Trauma dan gangguan stressor terkait termasuk gangguan di mana paparan peristiwa traumatis atau stres terdaftar secara eksplisit sebagai kriteria diagnostik. Klasifikasi ini mencerminkan hubungan yang erat antara diagnosa ini dan gangguan dalam klasifikasi lainnya pada gangguan kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif dan yang terkait, dan gangguan disosiatif. 1. Reactive Attachment Disorder 2. Disinhibited Social Engagement Disorder 3. Posttraumatic Stress Disorder 4. Acute Stress Disorder 5. Adjustment Disorders 6. Other Specified Trauma- and Stressor-Related Disorder 7. Unspecified Trauma- and Stressor-Related Disorder - Dissociative Disorders Gangguan disosiatif yang ditandai dengan gangguan dan/atau diskontinuitas dalam integrasi kesadaran, memori, identitas, emosi, persepsi, representasi tubuh, kontrol motor, dan perilaku. Gejala disosiatif berpotensi dapat mengganggu setiap area fungsi psikologis. 1. Dissociative Identity Disorder 2. Dissociative Amnesia 3. Depersonalization/Derealization Disorder 4. Other Specified Dissociative Disorder 5. Unspecified Dissociative Disorder - Somatic Symptom and Related Disorders Gejala gangguan somatik dan gangguan lain merupakan kategori baru dalam DSM 5 disebut gejala somatik dan gangguan yang terkait. Semua kelainan di bagian bab ini memiliki ciri: adanya gejala somatik berhubungan dengan distres yang signifikan dan penurunan nilai. 1. Somatic Symptom Disorder 2. Illness Anxiety Disorder 3. Conversion Disorder (Functional Neurological Symptom Disorder) 4. Psychological Factors Affecting Other Medical Conditions 5. Factitious Disorder 6. Other Specified Somatic Symptom and Related Disorder 7. Unspecified Somatic Symptom and Related Disorder - Feeding and Eating Disorders Gangguan makan yang ditandai dengan gangguan terus-menerus makan atau perilaku-makan terkait yang menghasilkan perubahan konsumsi makanan atau penyerapan makanan dan yang secara signifikan merusak kesehatan fisik dan fungsi psikososial. 1. Pica 2. Rumination Disorder 3. Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder 4. Anorexia Nervosa 5. Bulimia Nervosa 6. Binge-Eating Disorder 7. Other Specified Feeding or Eating Disorder 8. Unspecified Feeding or Eating Disorder - Elimination Disorders Gangguan Eliminasi melibatkan perilaku yang tidak pantas terhadap urin atau feses dan biasanya pertama kali didiagnosis pada masa kanak-kanak atau remaja. Meskipun ada persyaratan usia minimum untuk diagnosis kedua gangguan, ini didasarkan pada usia perkembangan dan tidak semata-mata pada usia kronologis. 1. Enuresis 2. Encopresis 3. Other Specified Elimination Disorder 4. Unspecified Elimination Disorder - Sleep-Wake Disorders The DSM-5 klasifikasi gangguan tidur-bangun yang dimaksudkan untuk digunakan oleh kesehatan dan medis umum dokter jiwa (yang merawat orang dewasa, usia lanjut, dan pasien anak). Individu dengan gangguan ini biasanya menimbulan dengan keluhan tidur dan bangun, ketidakpuasan mengenai kualitas, waktu, dan jumlah tidur. 1. Insomnia Disorder 2. Hypersomnolence Disorder 3. Narcolepsy 4. Obstructive Sleep Apnea Hypopnea 5. Central Sleep Apnea 6. Sleep-Related Hypoventilation 7. Circadian Rhythm Sleep-Wake Disorders 8. Non–Rapid Eye Movement Sleep Arousal Disorders 9. Nightmare Disorder 10. Rapid Eye Movement Sleep Behavior Disorder 11. Restless Legs Syndrome 12. Substance/Medication-Induced Sleep Disorder 13. Other Specified Insomnia Disorder 14. Unspecified Insomnia Disorder 15. Other Specified Hypersomnolence Disorder 16. Unspecified Hypersomnolence Disorder 17. Other Specified Sleep-Wake Disorder 18. Unspecified Sleep-Wake Disorder - Sexual Disfunctions Disfungsi seksual adalah sekelompok gangguan heterogen yang biasanya ditandai dengan gangguan klinis yang signifikan dalam kemampuan seseorang untuk merespon secara seksual atau untuk mengalami kenikmatan seksual. Seorang individu mungkin memiliki beberapa disfungsi seksual pada waktu yang sama. Dalam kasus tersebut, semua disfungsi harus didiagnosis. 1. Delayed Ejaculation 2. Erectile Disorder 3. Female Orgasmic Disorder 4. Female Sexual Interest/Arousal Disorder 5. Genito-Pelvic Pain/Penetration Disorder 6. Male Hypoactive Sexual Desire Disorder 7. Premature (Early) Ejaculation 8. Substance/Medication-Induced Sexual Dysfunction 9. Other Specified Sexual Dysfunction 10. Unspecified Sexual Dysfunctio - Gender Dysphoria Ada satu diagnosis menyeluruh dari gender dysphoria, dengan kriteria terpisah sesuai dengan tahapan perkembangan anak-anak dan untuk remaja dan orang dewasa. - Disruptive, Impulse-Control, and Conduct Disorders Gangguan disruptif, impuls-kontrol, dan perilaku yang melibatkan masalah dalam pengendalian diri emosi dan perilaku. Sementara gangguan lain di DSM-5 juga dapat melibatkan masalah dalam regulasi emosional dan/atau perilaku, gangguan dalam kategori ini adalah unik karena masalah ini diwujudkan dalam perilaku yang melanggar hak orang lain (misalnya, agresi, perusakan harta benda) dan/ atau yang membawa individu ke dalam konflik yang signifikan dengan norma-norma sosial atau figur otoritas. Penyebab masalah dalam pengendalian diri emosi dan perilaku dapat sangat bervariasi di seluruh gangguan dalam kategori ini. 1. Oppositional Defiant Disorder 2. Intermittent Explosive Disorder 3. Conduct Disorder 4. Antisocial Personality Disorder 5. Pyromania 6. Kleptomania 7. Other Specified Disruptive, Impulse-Control, and Conduct Disorder 8. Unspecified Disruptive, Impulse-Control, and Conduct Disorder - Substance-Related and Addictive Disorders Gangguan - substansi terkait mencakup 10 kelas terpisah dari obat: alkohol; kafein; ganja; halusinogen (dengan kategori terpisah untuk phencyclidine [atau sama bertindak arylcyclohexylamines] dan halusinogen lainnya); inhalansia; opioid; sedatif, hipnotik, dan anxiolytics; stimulan (zat amphetamine-type, kokain, dan stimulan lainnya); tembakau; dan zat lain. 1. Alcohol Use Disorder 2. Alcohol Intoxication 3. Alcohol Withdrawal 4. Unspecified Alcohol-Related Disorder 5. Caffeine Intoxication 6. Caffeine Withdrawal 7. Unspecified Caffeine-Related Disorder 8. Cannabis Use Disorder 9. Cannabis Intoxication 10. Cannabis Withdrawal 11. Unspecified Cannabis-Related Disorder 12. Phencyclidine Use Disorder 13. Other Hallucinogen Use Disorder 14. Phencyclidine Intoxication 15. Other Hallucinogen Intoxication 16. Hallucinogen Persisting Perception Disorder 17. Unspecified Phencyclidine-Related Disorder 18. Unspecified Hallucinogen-Related Disorder 19. Inhalant Use Disorder 20. Inhalant Intoxication 21. Unspecified Inhalant-Related Disorder 22. Opioid Use Disorder 23. Opioid Intoxication 24. Opioid Withdrawal 25. Unspecified Opioid-Related Disorder 26. Sedative, Hypnotic, or Anxiolytic Use Disorder 27. Sedative, Hypnotic, or Anxiolytic Intoxication 28. Sedative, Hypnotic, or Anxiolytic Withdrawal 29. Unspecified Sedative-, Hypnotic-, or Anxiolytic-Related Disorder 30. Stimulant Use Disorder 31. Stimulant Intoxication 32. Stimulant Withdrawal 33. Unspecified Stimulant-Related Disorder 34. Tobacco Use Disorder 35. Tobacco Withdrawal 36. Unspecified Tobacco-Related Disorder 37. Other (or Unknown) Substance Use Disorder 38. Other (or Unknown) Substance Intoxication 39. Other (or Unknown) Substance Withdrawal 40. Unspecified Other (or Unknown) Substance–Related Disorder 41. Gambling Disorder - Neurocognitive Disorders Gangguan neurokognitif (NCD) (sebagaimana dimaksud dalam DSM-IV sebagai "Demensia, Delirium, amnestik, dan Gangguan Kognitif lain"). Kategori NCD meliputi sekelompok gangguan di mana ciri utammanya adalah adanya gangguan fungsi kognitif, biasanya dialami oleh orang dewasa. 1. Neurocognitive Domains 2. Delirium 3. Other Specified Delirium 4. Unspecified Delirium 5. Major and Mild Neurocognitive Disorders 6. Major or Mild Neurocognitive Disorder Due to Alzheimer’s Disease 7. Major or Mild Frontotemporal Neurocognitive Disorder 8. Major or Mild Neurocognitive Disorder With Lewy Bodies 9. Major or Mild Vascular Neurocognitive Disorder 10. Major or Mild Neurocognitive Disorder Due to Traumatic Brain Injury 11. Substance/Medication-Induced Major or Mild Neurocognitive Disorder 12. Major or Mild Neurocognitive Disorder Due to HIV Infection 13. Major or Mild Neurocognitive Disorder Due to Prion Disease 14. Major or Mild Neurocognitive Disorder Due to Parkinson’s Disease 15. Major or Mild Neurocognitive Disorder Due to Huntington’s Disease 16. Major or Mild Neurocognitive Disorder Due to Another Medical Condition 17. Major or Mild Neurocognitive Disorder Due to Multiple Etiologies 18. Unspecified Neurocognitive Disorder - Personality Disorders Sebuah gangguan kepribadian adalah pola abadi pengalaman batin dan perilaku yang menyimpang dari harapan lingkungan individu, meresap dan tidak fleksibel, memiliki hubungan dan pengaruh dengan masa remaja atau awal masa dewasa, stabil dari waktu ke waktu, dan menyebabkan penderitaan atau gangguan. 1. Dimensional Models for Personality Disorders 2. General Personality Disorder 3. Paranoid Personality Disorder 4. Schizoid Personality Disorder 5. Schizotypal Personality Disorder 6. Antisocial Personality Disorder 7. Borderline Personality Disorder 8. Histrionic Personality Disorder 9. Narcissistic Personality Disorder 10. Avoidant Personality Disorder 11. Dependent Personality Disorder 12. Obsessive-Compulsive Personality Disorder 13. Personality Change Due to Another Medical Condition 14. Other Specified Personality Disorder 15. Unspecified Personality Disorder - Paraphilic Disorders 1. Voyeuristic Disorder 2. Exhibitionistic Disorder 3. Frotteuristic Disorder 4. Sexual Masochism Disorder 5. Sexual Sadism Disorder 6. Pedophilic Disorder 7. Fetishistic Disorder 8. Transvestic Disorder 9. Other Specified Paraphilic Disorder 10. Unspecified Paraphilic Disorder D. Perbedaan DSM IV and V Perbedaan antara DSM-IV dan V yang jelas juga terlihat pada bagian Diagnosa Autisme : Diagnosa Autisme Profesional dalam bidang kesehatan mental, seperti: Dokter Anak, Psikiater dan Psikolog biasa menggunakan DSM dalam menyusun diagnosa Autisme. DSM memberikan panduan dan penjelasan mengenai berbagai gejala dan tanda-tanda yang terkait dengan autisme. DSM juga memberikan kriteria mengenai berapa jumlah gejala yang harus tampak untuk dapat menegakkan diagnosa klinis autisme. Perubahan diagnosa di DSM V Ada beberapa perubahan diagnosa dalam DSM V yang perlu dipahami oleh profesional dalam bidang kesehatan mental : 1. Satu diagnosa gangguan Autisme Spektrum (Autism Spectrum Disorder). Diagnosa ASD menggantikan berbagai diagnosa klinis terdahulu seperti Gangguan Autistik, Asperger, dan Ganggan Pervasive yang tidak spesifik. 2. Kriteria derajat keberatan gejala. Dalam diagnosa ASD diperkenalkan juga kontinuum derajat keberatan autisme, dari level 1, 2, 3. Tingkatan ini didasarkan pada sejauhmana anak membutuhkan dukungan orang lain dalam melakukan tugas perkembangannya. Tingkatan ini menunjukkan bahwa ada anak dengan tingkat ASD ringan dan ada pula yang tingkat gangguan lebih berat. 4. Diagnosa ASD dari Triadic menjadi Dyadic Sebelumnya diagnosa autisme ditegakkan jika muncul gangguan pada 3 ranah, yaitu: komunikasi dan bahasa, interaksi sosial dan perilaku minat terbatas dan berulang (DSM IV TR, 2000). Namun dalam DSM V, diagnosanya menjadi 2 ranah, yaitu: hambatan komunikasi sosial (deficits in social communication) dan minat yang terfiksasi dan perilaku berulang (fixated interest and repetitive behavior). 5. Profil sensoris autisme Sebelumnya problem sensoris atau inderawi autisme tidak disebutkan dalam DSM IV. Dalam DSM V, profil sensoris anak dengan ASD dimasukkan dalam gejala minat yang terfiksasi dan perilaku berulang. Misalkan: tidak menyukai makanan tertentu yang memiliki warna atau tekstur tertentu. 6. Gejala yang telah muncul sejak masa kanak Menurut DSM V, diagnosa ASD bisa ditegakkan jika anak telah menunjukkan gejala sejak masa kanak. Walaupun gangguan ASD baru diketahui setelah masa kanak, namun penting untuk melihat dyadic tersebut yang menunjukkan bahwa anak memiliki persoalan dalam hal sosial dan perilaku dibandingkan anak-anak seusianya. 7. Diagnosa comorbid Dalam DSM V, dijelaskan bahwa jika anak menampilkan gejala dari beberapa gangguan, maka ia bisa mendapatkan diagnosa komorbid. Diagnosa komorbid adalah jika anak mendapatkan 2 diagnosa gangguan atau lebih. Misalkan, anak dengan ASD dan ADHD. 8. Perbedaan diagnosa Gangguan komunikasi sosial dan ASD Perbedaannya adalah Gangguan komunikasi sosial (Social Communication Behavior) tidak mencakup problem perilaku minat terbatas dan berulang. Karena ini adalah kriteria yang baru, ahli klinis perlu lebih mempelajarinya agar lebih terbiasa menggunakannya. Perubahan ini akan mempengaruhi proses pembuatan diagnosa di seluruh dunia. Di Australia, mulai saat ini proses diagnosa ASD telah mulai menggunakan DSM V. Namun di Indonesia proses diagnosa ASD belum dilakukan dengan panduan DSM V. Sumber: Davidson, Gerald C., John M. Neale, & Ann M. Kring. 2004. Abnormal Psychology (9th Edition). US: john wiley & sons, inc. Millon, Theodore, Seth G., Carrie M., Sarah M., & Rowena R. 2004. Personality Disorder In Modern Life. US: john wiley & sons, inc. Nevid, J., Rahtus S., & Beverly G. 2003. Psikologi Abnormal. Jakarta: Penerbit Erlangga. Wiramihardja, Sutardjo A. 2007. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: PT Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar